Hi Netizen ,  welcome to   |  arekiwak  |  Area Network  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Oseanografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oseanografi. Tampilkan semua postingan

Anggaran Air di Dunia

Dalam tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai anggran air didunia, dimana aliran-aliran ini sudah menjadi siklus tahunan didunia yakni dengan terjadinya peralihan musim hujan ke panas, dan sebaliknya dari musim panas ke musim penghujan (Untuk musim yang ada di Indonesia). Artikel ini adalah masih ada hubungannya dengan artikel sebelumnya yakni Hubungan Udara Darat dan Laut Part I dan Part II . Jadi alangkah lebih baik jika mulai membacanya adalah berawal dari tulisan tersebut.

Interaksi antara atmosfer dan lautan mencakup pula  masalah pertukaran uap air antara ke duanya. Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa lautan melakukan penguapan membentuk awan. Awan ini seterusnya menjadi hujan yang sebagian turun dilautan dan bagian lainnya turun di daratan.Yang terakhir ini membentuk pula mata air dan sungai-sungai yang kemudian semuanya pergi kelaut. Sebagian air diserab oleh mahluk hidup atau biosfer, yang kemudian kembali ke daratan atau ke atmosfer lewat proses fisiologi, termasuk pernapasan dan pencernaan.  Jadi dalam hal ini terdapat suatu peredaran air yang tidak putus-putusnya (Gambar 2.9).

Gambar 2.9   Siklus air,  memperlihatkan terjadinya pertukaran air diantara daratan, lautan dan udara (atmosfer).  Air yang menguap dari daratan dan lautan akan masuk ke dalam atmosfer yang kemudian akan jatuh kembali kepermukaan bumi berupa hujan atau salju.  Mereka juga akan masuk kembali ke dalam lautan melalui sistem daerah aliran  sungai di daratan  (Weihauput, 1979).
Secara umum besarnya penguapan (E) dan curah hujan (P) yang saling dipertukarkan antara Lautan - Atmosfer - Daratan adalah sebagai berikut :

Tabel  2.1   Tata air di dunia  (Gani.I.A, 1999): 




Jumlah per tahun dalam satuan 
1.000 km3

Jumlah per tahun rata-rata dalam  cm

Lautan
361 x 106  km2


Penguapan  (E)
Curah Hujan  (P)
Beda E - P


351
324
27

97,3
89,8
7,5

Daratan
149 x 106  km2


Penguapan  (E)
Curah Hujan (P)
Beda  E – P

74
101
27

49,7
67,8
18,1

Dari tabel ini nampak bahwa jumlah penguapan lautan yang turun di daratan adalah 27.000 km3/tahun yang nantinya akan kembali ke laut sebagai aliran-aliran sungai.  Selanjutnya terlihat pula bahwa jumlah tadi hanya merupakan  8% dari seluruh penguapan lautan.  Sejumlah 324.000 km3 atau 92% kembali langsung ke laut sebagai curah hujan.

Sebaliknya di daratan dari curah hujan sebanyak 101.000 km3, hanya  25% (27 km3) yang mengalir ke laut sedangkan sebagian besar 75% (74 km3) langsung menguap kembali ke atmosfer. Masalah penguapan dan curah hujan sangat erat bertalian dengan sifat dan peredaran dari atmosfer. Udara yang kering sifatnya mudah menyerab air dan karena itu memperlancar penguapan.  Apabila udara sifatnya lebih dingin dari air maka bagian udara yang bersinggungan dengan air akan menjadi lebih panas suhunya dan karena itu menjadi ringan serta naik ke atas.  Bersama ini terbawa pula sejumlah uap air kelapisan-lapisan atas.  Udara dingin di lapisan itu akan turun, menjadi panas dan naik lagi, sehingga terbentuklah konveksi vertikal yang memperlancar penguapan.  

Sebaliknya bila udara lebih panas dari air, maka udara yang bersinggungan dengan air menjadi lebih dingin dan karena itu menjadi lebih berat sehingga terciptalah keadaan stabil. Dimana tidak ada aliran konveksi, karena itu pula tidak ada pemindahan uap kelapisan-lapisan atas.    

Peredaran udara berupa angin juga memperlancar penguapan, karena angin mencampur-baurkan berbagai lapisan udara sehingga dapat menerima lebih banyak uap air.  Udara yang jenuh dengan uap air akan membentuk awan dan hujan bila mengalami pendinginan.

Karena faktor meteorologi ini maka keadaan penguapan dan hujan  tidaklah sama dimasing-masing tempat di laut. Angka rata-rata untuk keseluruhan samudera adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2   Jumlah rata-rata dari penguapan (E), curah hujan (P), perbedaan E - P , dan salinitas di lautan dunia (Gani.I.A, 1999)

Lintang
Penguapan (E)  cm/tahun
Curah hujan (P)  cm/tahun
E – P
cm/tahun
Salinitas
0/00

400 U
35
30
25

20
15
10
5

0

50 S
10
15
20

25
30
35
40
45
50


94
106
120
129

133
130
129
110

119

124
130
134
134

124
111
99
81
64
43

93
79
65
55

65
82
127
177

102

91
96
85
70

62
64
64
84
85
84

1
27
55
74

68
48
2
67

17

33
34
49
64

62
47
35
-3
-21
-41


34,54
35,05
35,56
35,79

35,44
35,09
34,72
34,54

35,08

35,20
35,34
35,54
35,69

35,69
35,62
35,32
34,79
34,14
33,99
Dari tabel ini nampak bahwa penguapan mempunyai nilai besar untuk daerah-daerah subtropik (antara lintang 100 - 300 U/S).  Di daerah khatulistiwa dan di kutub-kutub untuk penguapan secara nisbi lebih rendah, dan sebaliknya curah hujanlah yang lebih tinggi.

Pada tabel tersebut ditunjukan pula harga rata-rata salinitas paras keseluruhan lautan, dikarenakan penyebaran salinitas paras terutama dipengaruhi oleh masalah tata air ini, khususnya oleh perbedaan antara penguapan (E) dan Curah hujan (P), yang pada azasnya dapat dikatakan sebagai berikut :

Bila  E - P   positif, terjadi peninggian salinitas
Bila   E - P  negatif, terjadi penurunan salinitas.

Hal lain yang juga mempengaruhi salinitas paras adalah masalah pembentukan dan pencairan es di daerah kutub, sedangkan di daerah tropik selain dipengaruhi oleh  E - P  juga sungai-sungai sangat mempengaruhi penyebaran salinitas. 

12.03 | 0 komentar

Hubungan Udara Darat dan Laut Part II


2.2   Interaksi Udara dengan Laut
Telah diketahui bahwa antara atmosfer bumi dengan lautan yang sering juga disebut hidrosfer, terdapat hubungan pengaruh mempengaruhi yang sangat erat.  Lautan menerima energi dari matahari lewat atmosfer.  Sebagian besar energi ini berbentuk radiasi sinar, sebagian lagi berbentuk tenaga angin yang dipindahkan ke arus-arus lautan.  Energi-energi ini oleh lautan ada yang digunakan untuk proses penguapan,  menjalankan peredaran air dan sebagian lain diteruskan kelapisan-lapisan lebih jeluk untuk meningkatkan suhu air.

Pada proses penguapan terbentuklah uap air yang banyak menyimpan energi.  Pada waktu pengembunan dalam rangka pembentukan hujan, energi ini dikembalikan lagi kepada atmosfer.  Ini kemudian digunakannya pula untuk peredaran atmosfer  dan proses-proses lainnya yang terjadi di dalam atmosfer.  Dengan kata lain terdapat hubungan erat yang timbal balik atau interaksi antara atmosfer dengan hidrosfer, yang selain mempertukarkan energi bahang (heat) juga mempertukarkan air tawar antara keduanya.

Selanjutnya bahang dapat pula dipertukarkan antara atmosfer dengan lautan secara langsung, tergantung fihak mana yang bersuhu rendah (energi rendah) dan fihak mana yang bersuhu lebih tinggi (energi tinggi).  Lautan juga menerima pemindahan energi berupa momentum dari atmosfer, lewat gesekan (friction) dan tindihan (stress) arus-arus angin atas paras lautan.  Hal ini akan menimbulkan arus-arus lautan dan peredaran air, yang juga akan mempengaruhi penyebaran energi bahang dan momentum di lautan.

Angin adalah merupakan salah satu unsur meteorologi yang sangat penting diperhatikan dalam masalah kelautan.  Di Indonesia umumnya jarang ditemukan angin yang sangat kuat.  Badai yang lebih kuat dikenal dengan Siklon trofis, sering mengamuk di samudera sekitar garis lintang 100 Utara dan juga sekitar 100  Selatan.  Di Utara sering dilaporkan terjadi di Laut Cina Selatan bagian utara, Filipina, dan Laut Andaman, sedangkan di selatan sering terjadi di Samudera Hindia sampai ke utara Australia.  Dengan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) menggunakan citra satelit, kini kelahiran dan gerakan siklon dapat cepat diketahui dan diikuti perkembangannya.

Gambar 2.7  menunjukan frekuensi kejadian siklon tropis di sekitar Indonesia dan kecendrungan arah geraknya sebelum terurai habis.  Perairan di selatan Jawa dan antara Nusa Tenggara dan Australia sering merupakan tempat kelahiran siklon tropis yang akibatnya sering menimbulkan gangguan didaratan kita.

2.2.1. Anggaran Bahang (Heat) di Lautan   
Telah disebutkan bahwa sumber utama dari energi yang diterima lautan ialah matahari.  Energi ini berbentuk sinar dengan panjang gelombang 0,3 um hingga 20 um yakni dari sinar ultra lembayung hingga infra merah.  Jumlah penyinaran matahari diberbagai tempat di atas atmosfer setiap hari dapat dilihat pada Gambar 2.8.  Dalam gambar ini penyinaran atau radiasi matahari diukur dengan langley per-hari.  Satu langley = jumlah penyinaran yang diterima oleh 1 cm2 paras yang apabila diubah menjadi bahang dapat menaikan suhu 1 gram air sebesar 10C.

Oleh atmosfer sebagian besar dari energi ini diserabnya terutama oleh molekul-molekul  dan karbondioksida.  Gelombang yang banyak sekali diserab hingga praktis habis adalah ultra lembayung, sebaliknya yang sedikit diserab adalah infra merah.  Karena adanya penyerapan ini maka walaupun langit dalam keadaan cerah  intensitas sinar yang mencapai paras lautan tinggal  1,34 kal/cm2/menit.  Jumlah ini sebagian besar terdiri atas gelombang-gelombang sinar yang bisa dilihat oleh mata, yakni gelombang-gelombang warna-warna pelangi.

Selain diserap, sinar matahari juga dipencar (scattered) oleh molekul-molekul udara yang ada di dalam atmosfer.  Itulah sebabnya warna langit biru.  Tanpa pemencaran ini maka warna langit menjadi hitam sebagaimana langitnya bulan.  Langit yang biru tersebut kemudian memencarkan sinarnya keatas lautan, yang umumnya merupakan sinar biru.

Penyebaran dari penyinaran di atas paras lautan berbeda-beda.  Hal ini bergantung pada tingginya matahari, perkisaran musim, dan lintang dari suatu tempat.
Gambar 2.7   (atas)  Jumlah rata-rata siklon tropis pertahun. (bawah) Kecendrungan arah gerak siklon tropis  (Nontji.A, 1993).
Gambar 2.8    Jumlah penyinaran matahari di berbagai tempat di atas atmosfer setiap hari dalam satuan langley/hari (Gani.I.A, 1999).
Pada gambar 2.8 dapat dilihat bahwa di bulan Januari matahari berada pada lintang 23,50 L.S.  Maka kutub Utara berada dalam kondisi gelap dan  tidak menerima penyinaran, disamping itu daerah khatulistiwa bukanlah daerah yang paling banyak menerima penyinaran, namun yang terbanyak menerima penyinaran adalah daerah yang berada pada lintang 200S, karena ditempat-tempat ini waktu siang hari lebih panjang dari pada malam hari.  Di kutub Selatan matahari bahkan tidak pernah terbenam.  Pada buulan Agustus hal yang sebaliknya terjadi dimana matahari berada pada lintang 23,50 L.U.  Kutub utara menerima penyinaran yang maksimum, sedangkan kutub selatan tidak menerima penyinaran sama sekali.

Hal-hal yang diterangkan di atas adalah mengenai jumlah penyinaran rata-rata perhari setiap bulannya.  Tetapi kalau dihitung secara keseluruhan berapa jumlah penyinaran setiap tahunnya, maka daerah khatulistiwa masih tetap menerima jumlah penyinaran yang tertinggi.

Selanjutnya angka ini akan semakin mengecil menuju ke arah dua kutub. Keadaan penyinaran yang demikian mempunyai pula pengaruh terhadap penyebaran suhu paras laut.

Seperti halnya di atmosfer, gelombang cahaya yang masuk kedalam air laut sebagian diabsorbsi dan sebagian lagi mengalami scattering.  Radiasi matahari dalam bentuk enersi elktromagnetis, oleh proses absorbsi diubah menjadi enersi molekuler kinetis yang dikenal sebagai panas.
Suhu di laut merupakan hasil resultante dari banyak faktor-faktor, secara simbolis kesetimbangan panas yang di terima dan yang hilang dapat digambarkan sebagai berikut :

It   =   I0 - I p - Ik - Ie - Ia + Ic  + Ib + If + Ir  

dimana :
Io =   Radiasi yang tiba di laut
Ip =   Radiasi yang dipantulkan
Ik =   Panas yang hilang ke atmosfer akibat hantaran langsung
Ie =   Panas yang hilang karena evaporasi
Ia =   Panas yang hilang karena arus
Ic =   Panas yang timbul akibat reaksi kimia dan proses biologis
Ib =   Panas yang datang dari pusat bumi
If =   Panas yang timbul karena gesekan
Ir =   Panas yang timbul karena radioaktif.

Sumber-sumber panas   I (c,b,f,dan r ) tidak berarti pada perairan yang sempit.  Keempat komponen yang pertama pada perumusan di atas adalah faktor utama yang menentukan suhu air laut.


11.37 | 0 komentar

Hubungan Udara Darat dan Laut part I


1.2   Pembentukan Laut dan Darat
Hasil penelitian geologi modern telah menunjukan suatu bukti bahwa  kerak bumi itu telah dan selalu terus mengalami perubahan-perubahan. Gambar 2.1 menunjukan bahwa baik gunung berapi maupun gempa bumi cendrung untuk terdapat disepanjang sistem mid-oceanic ridge dan disepenjang batas-batas dunia yang ditandai dengan adanya trench yang dalam.  Para ahli geologi percaya bahwa daerah-daerah aktif ini mewakili tempat-tempat dimana sering terjadi retakan-retakan besar di kerak bumi.  Retakan-retakan ini mencakup seluruh permukaan bumi sehingga membagi kerak bumi menjadi enam bagian lempengan besar yang dinamakan Tectonic Plates , dimana tiap lempengan terdiri atas kerak yang saling bersambungan (tidak terputus-putus, Gambar. 2.2).
Gambar  2.1    Peta dunia yang menunjukan bekas tempat-tempat terjadinya gunung berapi.  Dari gambar di atas terlihat bahwa lokasi ini cendrung untuk erdapat pada daerah-daerah yang letaknya sama dengan daerah gempa bumi (Weihaupt, 1979)
Gambar  2.2    Peta yang menunjukan arah dari gerakan kerak bumi yang terbagi menjadi enam lempengan  tektonik (tectonic plates), dimana gerakan dari setiap lempengan (arah panah) berasal dari sistem mid-oceanic ridge ke arah luar (Rona, 1973). 
Bentuk lempeng-lempeng ini tidak rata, tetapi setiap lempengan cendrung untuk membentuk suatu batas dengan sistem mid-oceanic ridge, yaitu satu sisi dengan massa benua dan sisi yang lain dengan batas lempengan tektonik . Lempengan tektonik ini bergerak secara perlahan-lahan dengan kecepatan rata-rata beberapa centimeter setiap tahunnya. Kecepatan pergerakan ini akan sangat berarti jika ditinjau dari usia bumi yang sudah berjuta-juta tahun. Sebagai contoh, jika bahan lempengan yang rata-rata hanya bergerak 1 cm/tahun maka akan dapat menempuh jarak 45 km dalam waktu 4,5 juta tahun.  Setiap lempengan akan bergerak pada sudut siku-siku ke arah dan menjauhi oceanic ridge (ditunjukan oleh arah panah pada Gambar. 2.2).

Suatu hal yang menarik perhatian adalah bahwa kerak bumi yang baru selalu terbentuk secara terus menerus dan menambah lempengan pada sistem ridge . Cairan batu-batuan basal dari  bagian dalam bumi didorong ke atas melalui retakan-retakan dan kemudian menjadi keras membentuk kerak lautan yang baru. Begitu kerak yang baru ini terbentuk, mereka ini lalu mendorong dan memisahkan  sisa lempengan tektonik dan melintasi lantai lautan.

Kegiatan gunung berapi berkaitan erat dengan daerah-daerah subduction  sehingga menyebabkan terbentuknya jajaran gunung diberbagai tempat dimuka bumi ini.  Lapisan batua-batuan yang mencair secara berturut-turut dilemparkan ke atas permukaan bumi.  Begitu sampai dipermukaan bumi, batu-batu yang mencair ini akan mengeras dan saling menindih satu sama lain yang secara perlahan-lahan akan membentuk tanah yang menaik di atas daratan.  Daerah subduction ini ditandai dengan  adanya trench yang dalam (Gambar. 2.3).

Gambar  2.3   Sebuah gambaran sederhana dari daerah subduction , dimana bahan-bahan dari kerak bumi bergerak keluar dari sistem mid-oceanic ridge  dan apabila mereka bertemu dengan lapisan kerak benua  (continental crust), arahnya akan di belokan ke bawah.  Trench yang terdapat disini mempunyai ukuran yang kecil dan gunung berapi dapat di jumpai pada bagian sisi yang mengarah ke darat (Gross, 1972).
Dibagian utara lautan Hindia dan Pasifik, kerak benua dari Asia daratan menjorok dibawah permukaan laut, akibatnya batas-batas yang berdekatan dengan lempengan tektonik didaerah subduction  terjadi, mempunyai jarak yang jauh dari lautan.  Java trench  adalah salah satu contoh dari tipe daerah subduction.  Daerah ini dipisahkan dengan daratan oleh adanya lautan yang dangkal seperti laut jawa.  Hal ini juga terdapat pada daerah-daerah lain di kepulauan Indonesia (Gambar. 2.4).  Bagaimanapun gunung-gunung yang dibentuk disini adalah berasal dari lantai lautan yang kemudian terbentuk menjadi sebuah kumpulan pulau-pulau. 

Gambar   2.4    Sebuah peta yang menunjukan, letak dari Java Trench yang terpisah dari daratan Asia, kepulauan gunung berapi, kepulauan Indonesia, dan lautan yang dangkal seperti Laut Jawa dan Laut Cina Selatan (Gross, 1972).
Penyebaran dasar lautan (sea-floor spreding) tidak saja merupakan suatu bentuk sifat dari lautan, tetapi ini juga merupakan suatu hasil dari gerakan massa tanah daratan.  Lempengan tektonik benar-benar telah mendesak massa kerak bumi yang mengakibatkan mereka menghasilkan suatu proses yang dikenal sebagai continental drift. Akibat dari proses ini massa kerak bumi dipisahkan dari lempengan tektonik.  Oleh karena itu seperti yang diharapkan, maka g
erakan benua inilah yang terutama menyebabkan terpisahnya mereka dengan mid-oceanic ridge.  Sekitar 180 juta tahun yang lalu benua Afrika dan Amerika Selatan adalah merupakan suatu daratan yang bergabung pada mid-Atlantic Oceanic ridge. Ketika lapisan kerak bumi pada ridge baru terbentuk, daratan ini didesak secara perlahan-lahan, dan terpisah satu sama lain. Rata-rata kecepatan gerakan memisah kearah Timur dan Barat adalah terbukti sama/seimbang, oleh karena itu ridge ini sekarang terletak pada jarak yang sama dari kedua benua (Gambar. 2.5).

Gambar  2.5  Pemisahan benua-benua utama dalam sejarah geologi.  Pada suatu masa dipercaya bahwa banua Afrika dan benua Amerika bagian Selatan bergabung menjadi satu pada sistem mid-Atlantic ridge (garis tebal).  Mereka telah didorong dan dipisahkan secara perlahan-perlahan  dari sistem ridge oleh perentangan lapisan kerak lautan (oseanic crust) yang baru, dimana pada saat sekarang dipisahkan oleh Lautan Atlantik (Mc-Kenzie dan Sclater, 1973).
Gambar   2.6  Perkembangan dari sebuah pulau vulkanik. (a) Pertama-tama sebuah pulau terbentuk sebagai akibat adanya kegiatan gunung berapi di bawah permukaan laut; (b) Kegiatan selanjutnya mengakibatkan pulau muncul di atas permukaan laut; (c ) Terumbu karang terbentuk dibagian pulau yang terkikis  (d) Atol, akibat adanya pengikisan yang terus berlangsung dari daratan, maka terumbu karang akhirnya akan mengelilingi sebuah lagon yang dangkal:  (e) Atol akhirnya tenggelam ke dalam laut, sehingga terumbu karang akan hancur dan sisa-sisa pulau membentuk sebuah guyot. 

Sebagaimana benua dapat didorong dan dipisahkan oleh penyebaran dasar lautan, demikian juga mereka dapat bergerak untuk saling mendekati.  India diduga berasal dari potongan-potongan benua kuno Gondowanaland.  Potongan-potongan ini diseret kearah Utara  sepanjang 5.000 km dalam jangka waktu lebih dari 30 juta tahun dan akhirnya bertabrakan dengan benua Asia.  Proses tabrakan ini menghasilkan tekanan ke atas yang amat besar, sehingga terbentuklah pegunungan Himalaya seperti yang ada sekarang ini.

Bersambung ke Part II ya.

Klik Yang Dibawah Ini

15.57 | 0 komentar

Perkembangan Ilmu Oseanografi

Perkembangan Ilmu Oseanografi

Pada abad keempat sebelum Masehi, seorang sarjana terkemuka bangsa Yunani, Aristoteles,telah melakukan suatu penelitian mendetail mengenai hewan dan tumbuh-tumbuhan laut,dimana dia dengan cermat telah menjelaskan dan mengklafikasikan organisme-organisme tersebut. Akhirnya pada abad kesatu sebelum Masehi, hubungan antara gerakan pasang dan letak dari bulan telah dimengerti oleh manusia untuk yang pertama kalinya.Pengertian ini telah mendorong manusia untuk mampu membuat ramalan yang tepat.Kemajuan ilmu oseanografi dapat terjadi karena antara lain adanya kapal-kapal penelitian dan expedisi-expedisi ilmiah yang menggunakan kapal-kapal tersebut.Kapal merupakan alat terpenting untuk penelitian oseanografi. Beberapa diantara yang terkenal dalam sejarah ilmu oseanografi adalah :

CHALLENGER
Ini adalah kapal yang masih menggunakan tenaga uap dan layare sebagai tenaga pendorong yang meskipun dilihat dari ukurannya sudah cukup besar (3000 ton). Ini adalah kapal yang pertama kali mengadakan expedisi penelitian laut dengan mengelilingi dunia (1872 – 1876). Karena itu saat lahirnya ilmu oseanografi dianggap bermula pada waktu dimulainya Expedisi Challenger ini.  Kapal ini milik kerajaan Inggris.

ALBATROS
Milik A.S, juga mengelilingi dunia dengan mengumpulkan contoh-contoh dasar laut samudera dunia. Expedisi diadakan pada tahun 1890 – 1910.

METEOR
Merupakan Expedisi sistematik yang pertama-tama dilakukan, khusus untuk mempelajari satu samudera secara terperinci.  Pe.rairan yang diteliti adalah samudera Atlantik, sedangkan bidang yang dikaji meliputi ;  Biologi, Fisika, dan Kimia.  Expedisi diadakan tahun 1925 dan 1927 oleh orang Jerman.

DISCOVERY
Milik Inggris, juga mengelilingi dunia pada tahun 1925 – 1939.

WILLEBROD SNELLIUS
Milik kerajaan Belanda, yang melakukan expedisi di perairan Indonesia Timur tahun 1929 – 1930, dan hingga sekarang  masih merupakan salah satu sumber data yang terkemuka untuk perairan tersebut.

ATLANTIS
Milik A.S.  Expedisi yang diadakan mempelajari samudera Atlantik Utara, khususnya tentang Arus Teluk (Gulf Stream).

VITIAZ dan LEMONOSOV
Dari Rusia.  Merupakan kapal yang berukuran besar yang pernah  dipakai di Samudera Atlantik dan tempat-tempat lainnya.

Setelah deratan expedisis-expedisi yang menggunakan satu kapal tersebut di atas, maka orang kemudian melakukan expedisi dengan menggunakan beberapa kapal secara bersamaan. Pertama melaksanakannya adalah Amerikat Serikat, yaitu dengadakan “Operation Cabott”  pada tahun 1950 di Atlantik Utara.  Keuntungan expedisi semacam ini adalah dapat menyelidiki bagian perairan yang lebvih luas dalam waktu yang bersamaan. Juga dalam “Operation Cabott” dicoba untuk ysang pertama kalinya alat-alat modern  dan beberapa diantaranya masih digunakan hingga kini. Setelah tahap expedisi beberapa kapal oleh hanya satu negara, menyusul kemudian expedisi dengan menggunakan kapal-kapal dari berbagai negara.  Expedisi Internasinal yang pertama dilaksanakan adalah “NORPAC’ di samudera Pasifik Utara pada tahun 1955, yang diikuti antara lain oleh Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan lain-lain. Selanjutnya :

Pada 1960 :   “Overflow Program” yang mempelajari masuknya air laut Artik ke Samudera  Atlantik Utara, antara Iceland dan Norwegia.
1960-1965 :   International Indian Ocean Expedition, yang memepelajari satu-satunya samudera yang belum dijamah waktu itu, yakni Samudera Sundraya.  Negara-negara yang ikut expedisi ini berjumlah 14 Negara, termasuk Indonesia yang menggunakan KRI “Jalanidhi”.
1963-1966 :   “Equalant” , yakni expedisi kebagian khatulistiwa Samudera Atlantik.  Negara-negara peserta berasal dari Amerika dan Eropa.
1966-1970 :   “CSK”, yakni Cooperative Study of the Kuroshio current di Samudera PasifikBarat Laut, di dalamnya Indonesia juga ikut serta.

Pada saat ini Ilmu oseanografi adalah merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang berkembang cepat dan membutuhkan biaya yang mahal, serta sering bersangkutan dengan kerja sama Internasional. Kapal-kapal penelitian oseanografi sekarang telah dilengkapi dengan alat-alat modern dan rumit, yang dapat difungsikan untuk mengumpulkan data-data fisika, kimia, dan biologi secara cepat, tepat, dan jelas. 

Tahun-tahun belakangan ini merupakan masa-masa perkembangan dari kapal-kapal yang sering mangadakan penelitian di bawah permukaan laut, bahkan sekarang sudah banyak dijumpai adanya laboratorium di bawah air yang sifatnya permanen. Keterangan-keterangan dari satelit yang selalu mengelilingi bumi juga menjadi begitu penting artinya dalam melengkapi data-data tentang gejala arus laut dan pertukaran panas.

Perkembangan Ilmu Oseanografi Indonesia

Tahun 1904 merupakan tahun bersejarah, karena pada saat itu atas prakarsa  Dr.Koningsberger (saat itu Direktur Kebun Raya Bogor) didirikanlah “visscherij Station” (Stasiun Perikanan) yang pertama di Indonesia, berlokasi di Pasar Ikan., Jakarta.  Tahun 1919, laboratorium ini berubah menjadi laboratorium Biologi Laut.  Setelah ini mengalami beberapa kali perubahan nama mulai dari Lembaga Penelitian Laut menjadi Lembaga Sunber Lautan, dan lalu berubah menjadi Lembaga Penelitian Laut, dan akhirnya pada tahun 1970 berubah menjadi Lembaga Oseanologi Nasional.

Lembaga ini sekarang telah mempunyai sebuah stasiun penelitian yang berjalan baik, dimana telah dilengkapi dengan peralatan laboratorium dan kapal-kapal peneliti yang telah melaksanakan beberapa kali penelitian terhadap kondisi peraian disekitarnya.  Diantara aktifitas-aktifitas ini antara lain adalah expedisi Rumphius  I, II, dan III yang tekanannya pada biosistematik. Expedisi Indonesia ini diperkuat pula dengan ahli-ahli dari orang Belanda.

Kegunaan Oseanografi

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa laut adalah merupakan sumber bahan makanan, minyak, dan mineral-mineral lainnya.  Untuk mampu mengexplorasi dan mengexploitasi laut secara efektif dan efisien hasil-hasil laut adalah sangat tergantung pada pengetahuan kita tentang keadaan perairan operasi.  Tetapi karena laut merupakan suatu unit perairan (satu kesatuan) serta adanya hubungan atau pengaruh dari suatu perairan keperairan lainnya, maka semua perairan di dunia ini perlu dipelajari.

Beberapa hal yang dapat dimanfaatkan dari laut antara lain untuk :  Transfortasi, Perikanan, Pertambangan, Bahan baku obat-obatan,Energi, Rekreasi dan Pariwisata, Pendidikan dan Penelitian, Konservasi alam, Serta untuk Pertahanan dan Keamanan. Laut kita selain dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, ternyata dilain fihak mengalami pula kerusakan atau penurunan kualitas lingkungan karena pencemaran, atau karena exploitasi sumberdaya secara berlebihan.

Dari uraian di atas kita dapat melihat bagaimana pentingnya mengkaji oseanografi dari suatu perairan untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi penggunakan laut dalam arti ekonomi, komunikasi, transfortasi, dan keamanan. Mengingat bahwa laut dapat memberikan manfaat yang besar , tetapi sekaligus juga dapat menimbulkan bencana maka pengetahuan kita tentang laut sangat perlu untuk dikembangkan.    

02.53 | 0 komentar

Pengertian Oseanografi

Pengertian Dan Ruang Lingkup Oseanografi

Dunia kelautan pada umumnya wilayahnya adalah dikelilingi dengan perairan yang 

Melihat asal kata dari Oseanografi bisa disimpulkan bahwa (Ocean = Laut, Graph = Gambaran),dapat disimpulkan oseanografi adalah suatu ilmu yang mempelajari segala fenomena dan proses yang terjadi baik di permukaan laut, di dalam kolom air laut, maupun di dasar laut.Oleh karena itu oseanografi mencakup semua cabang ilmu yang mempelajari lautan yang dapat dibagi atas beberapa cabang sebagai berikut :
  1. Oseanografi fisika (Physical oceanography)
  2. Oseanografi Kimia (Chemical oceanography)
  3. Oseanografi Biologi (Biological oceanography)
  4. Oseanografi Geologi (Geological oceanography)

Oseanografi Fisika adalah cabang ilmu oseanografi yang mempelajari segala sesuatu tentang fenomena dan proses-proses fisika di laut.  Hal-hal yang menjadi objek studinya  antara lain ; Arus-arus laut, Gelombang dan Pasang, Penyebaran dan perambatan cahaya dan bunyi di dalam laut, serta sifat-sifat fisika air laut seperti Suhu, Kejernihan, titik beku, daya hantar listrik, dan sifat-sifat fisika lainnya.

Oseanografi Kimia adalah mempelajari segala sesuatu tentang zat-zat yang terkandung di dalam air laut, asal-usul pembentukannya, faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya,proses reaksi yang terjadi,serta faktor-faktor yang mempengaruhi atau menguasai penyebaran zat-zat tersebut di laut.

Oseanografi Biologi ialah cabang yang mempelajari tentang mahluk hidup di lautan baik yang nabati maupun hewani. Hal-hal yang dipelajari antara lain tentang jenis-jenisnya, cara perkembang biakannya,daerah penyebarannya, hubungabn antara sesamanya maupun dengan lingkungannya.Cabang ini sering pula dinamakan dengan Biologi Laut.

Oseanografi Geologi adalah cabang yang mempelajari tentang geologi dasar lautan. Hal-hal yang dipelajari misalnya tentang bentuk dasar lautan, proses-proses yang mempengaruhi pembentukannya, endapan-endapan yang terkandung di atas maupun  di bawah dasar laut, dan banyak lagi hal-hal lainnya

Pembagian atas keempat cabang di atas sesungguhnya adalah hanya untuk keperluan praktisnya saja, karena pada hakikatnya pada masing-masing cabang ilmu tersebut adalah masih saling kait-mengkait, serta berhubungan erat antara satu dengan yang lain. Misalnya seorang ahli Peneliti Biologi, tentunya sangat memerlukan keterangan tentang keadaan arus, zat kimia yang terlarut, serta keadaan dasar dari suatu tempat mahluk yang menjadi obyek penelitiannya. Demikian seterusnya antara satu cabang terhadap cabang lainnya ada pertalian antara satu dengan yang lain, sehingga seseorang yang berkecimpung pada salah sastu cabang oseanografi tersebut di atas harus pula menguasai dasar-dasar keempat cabang tadi.
21.42 | 0 komentar

Categories